Pengembangan Usaha Pangan Masyarakat melalui kegiatan TOKO TANI INDONESIA

Harga pangan senantiasa bergejolak yang berdampak pada ketidakpastian usaha tani pangan dan merugikan petani. Pada saat panen raya biasanya harga jatuh dan sebaliknya pada saat musim paceklik harga membumbung tinggi. Disisi lain, gejolak harga juga merugikan konsumen dan berdampak pada perekonomian nasional.

Terjadi disparitas harga pangan yang tinggi, dimana harga di tingkat produsen selalu rendah dan di tingkat konsumen tinggi. Sebagai contoh harga beras medium di penggilingan Rp. 7.300 – 7.500/kg, tetapi di pasar bisa mencapai Rp. 8.500 – 8.600/kg. Harga bawang merah di tingkat petani Rp.7.000 – 15.000/kg, tetapi di pasar Rp. 17.000 – 25.000/kg dll.

Dalam tata niaga, posisi pedagang berada di tengah – tengah yang menjembatani antara produsen (petani) kepada konsumen sehingga kerap kali disebut sebagai middleman. Posisi tawar pedagang relatif kuat dibanding produsen dan konsumen sehingga kerap kali bisa mengatur dan menentukan harga (price maker). Sebagai konsekuensi dari daya tawar ini sehingga profit marjin yang dinikmati pedagang jauh lebih tinggi dibandingkan dari produsen.

Pada sisi lain, Bulog sebagai salah satu penyerap produk pangan petani selama ini tidak hadir di tengah – tengah petani. Bulog lebih banyak bermitra dengan pedagang untuk menyerap produk pangan petani. Hal ini mengakibatkan semakin memperpanjang rantai pasok produk pangan yang menekan harga di tingkat petani dan memberikan marjin keuntungan bagi middleman lebih besar. Oleh karena itu dipandang perlu untuk mengurangi keuntungan middleman tersebut melalui upaya memotong rantai pasok.

Dalam tata niaga pangan saat ini, Bulog yang berperan sebagai penyangga dan stabilisator harga saat ini baru mampu menyerap beras petani sebesar 6 – 7% saja, di sisi lain Bulog masih belum signifikan mengelola pangan lain : jagung,kedelai,cabai,bawang merah,gula dan sapi.

Berdasarkan permasalahan di atas, Kementerian Pertanian melakukan terobosan sebagai solusi permanen dalam mengatasi gejolak harga pangan yaitu Pengembangan Usaha Pangan Masyarakat (PUPM) melalui kegiatan Toko Tani Indonesia (TTI). Kegiatan tersebut merupakan upaya Pemerintah untuk :

  1. Menjaga harga wajar di tingkat produsen
  2. Memangkas rantai pasok yang panjang
  3. Mempermudah aksesbilitas pasokan dan harga di tingkat konsumen
  4. Merubah struktur pasar untuk menjadi lebih efisien
  5. Mengurangi keuntungan middleman

Dengan adanya program PUPM melalui kegiatan TTI setidaknya ada 3 manfaat yang bisa dirasakan oleh masyarakat luas baik produsen dan konsumen yaitu :

  1. Rantai pasok menjadi pendek
  2. Disparitas harga rendah
  3. Struktur pasar menjadi strategis

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *