SISTEM KEWASPADAAN PANGAN DAN GIZI (SKPG)

Indonesia merupakan negara kepulauan yang sangat luas dan memiliki keragaman agroekologi yang berpotensi sebagai penghasil pangan berlimpah. Perbedaan potensi produksi pangan, keragaman iklim, lokasi geografis di wilayah tertentu yang berpotensi bencana alam vulkanis, kekeringan dan banjir mengakibatkan sebagian wilayah Indonesia berpotensi mengalami permasalahan pangan dan gizi. Namun potensi permasalahan tersebut, salah satunya dapat dicegah dengan menerapkan Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi (SKPG) yang merupakan salah satu instrumen/alat deteksi dini terhadap situasi pangan dan gizi suatu wilayah dan memberi informasi alternatif tindakan pencegahan dan penanggulangan yang diperlukan.

SKPG sebagai instrumen kewaspadaan terhadap kemungkinan terjadinya masalah pangan dan gizi, digunakan secara luas di berbagai wilayah di dunia. Di dunia internasional SKPG umumnya dikenal sebagai Early Warning System (EWS) atau Timely Warning and Intervention System (TWIS). Konsep TWIS di Indonesia diadopsi dan diadaptasi menjadi Sistem Isyarat Dini dan Intervensi (SIDI). Implementasi SIDI di Indonesia saat ini dilaksanakan dalam bentuk SKPG.

Pelaksanaan SKPG perlu dipahami tidak hanya sebatas pemantauan situasi pangan dan gizi, melainkan sebagai isyarat dini/EWS terhadap perubahan situasi pangan dan gizi. Agar pelaksanaan SKPG tepat metode, tepat sasaran dan tepat waktu, dipandang perlu untuk menyusun panduan penyusunan SKPG yang dapat digunakan bagi para pemangku kepentingan di pusat, provinsi maupun kabupaten/kota dalam upaya pencegahan terhadap kerawanan pangan dan gizi.

Penerapan SKPG sangat diperlukan sebagaimana dinyatakan dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah, dimana terdapat pembagian urusan dalam penanganan kerawanan pangan antara pemerintah pusat, provinsi dan kabupaten/kota.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *