Kelompok Wanita Tani, Penunjang Kesejahteraan dalam Keluarga

Perempuan identik dengan pekerjaan mengurus rumah, anak, dan suami. Kini berbagai upaya telah dilakukan untuk meningkatkan peran perempuan terutama peran serta dalam mensejahterakan keluarga, salah satunya adanya Kelompok Wanita Tani yang berkonsentrasi pada perempuan petani terutama di pedesaan. Kelompok Wanita Tani atau biasanya disebut KWT kini telah banyak mengubah peran perempuan menjadi semakin produktif. KWT dibentuk sebagai upaya pelibatan kaum perempuan secara langsung dalam usaha-usaha peningkatan hasil pertanian, seperti menjadi bagian dari motivator dalam adopsi dan pengenalan teknologi tani.

Dibawah bimbingan Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Boyolali, setidaknya dari ratusan KWT yang berkembang di hampir setiap wilayah kecamatan Boyolali telah dibina 13 KWT dengan berbagai macam produk. Ke-13 KWT tersebut tersebar di Kecamatan Selo, Ampel, Boyolali, Mojosongo, Teras, Banyudono, dan Kemusu. Di Kecamatan Selo ada 3 KWT yakni KWT Sido Asih (Ds. Senden), Argasari dan Samiran Asli (Ds. Samiran) yang memproduksi kripik sayuran, kripik talas, sayuran segar, dan yang telah terkenal menjadi oleh-oleh khas daerah Selo yaitu jadah. Di Kecamatan Teras terdapat 2 KWT yaitu KWT Ngudi Mulyo (Ds. Teras) dan KWT Sejahtera (Ds. Kopen) yang memproduksi kue kering, aneka kripik, dan rambak. Kecamatan Banyudono berkembang 2 KWT yaitu KWT Ngudi Mulyo (Ds. Tanjung Sari) dan KWT Bhakti Rahayu (Ds. Trayu). KWT Ngudi Mulyo bergerak di bidang minapolitan sejak 2010 sebagai sentra produk ikan lele dan merupakan Kelompok Wanita Tani kelas Lanjut yang diprakarsai oleh Ibu Eka Supriyatin memproduksi berbagai olahan pangan dari ikan lele dengan merk Al Fadh dan telah mengantongi ijin dari BPOM HK, BPOM MUI, dan DEPKES. Ikan lele tersebut diolah menjadi berbagai makanan mulai dari abon ikan lele, keripik kulit ikan lele, keripik sirip lele, kerupuk lele, dendeng lele, pastel lele, stik duri ikan lele, otak-otak daging ikan lele, dan lele crunch tanpa duri. Melalui inovasi olahan lele inilah pada tahun 2016 lalu Ibu Eka Supriyatin berhasil mendapatkan penghargaan Adhikarya Pangan Nusantara. Sedangkan KWT Bhakti Rahayu berhasil memproduksi Telor asin, aneka kripik dan stik sayuran. Kecamatan Boyolali terdapat 2 KWT binaan yaitu KWT Ngudhi Rejeki I (Ds. Karanggeneng) yang memproduksi aneka kue basah dan telor asin dan KWT Maju Mulyo (Ds. Penggung) dengan produksi aneka kripik, loncis, dan karak non boraks.  Selain KWT Ngudi Mulyo yang bergerak di bidang olahan ikan lele, banyak KWT yang mengolah berbagai jenis sayur mayur mengingat letak Kabupaten Boyolali yang berada di kaki gunung dengan tanah yang subur, yakni KWT Budi Pertiwi di Dukuh Pandansari, Desa Wonodoyo, Kecamatan Cepogo dan KWT Berdaya di Desa Samiran Kecamatan Selo. Mereka mengolah aneka sayur mayur menjadi makanan yang berdaya jual tinggi, contohnya pumpkin, wortel, brokoli, bayam merah, dong adas, diolah menjadi keripik, pangsit, stik, dan dodol. Mereka juga mengolah susu sapi menjadi produk yang lebih awet antara lain, dodol susu, stik susu, dan kerupuk susu sapi. KWT berhasil mengolah bahan pangan menjadi produk pangan yang lebih berdaya jual sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan keluarga melalui inovasi olahan pangan tersebut.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *