TERNYATA “SABAR” SELALU HADIR BERSAMA BAHAN PANGAN BEKU

Melongok ke dalam super market, seringkali kita temukan bahan pangan yang dibekukan, entah produk lokal atau impor. Wajar jika kemudian muncul pertanyaan “kenapa dibekukan?”  tentu agar awet dan kita dapat memperoleh bahan pangan yang baik, terjamin dan aman.

Agar bahan pangan tersebut awet dengan pembekuan, ada persyaratan-persyaratan khusus yang harus dipenuhi, diantaranya bahan pangan harus dikemas dengan baik dan memenuhi standar pengemasan bahan pangan beku, suhu dijaga konstan dan tidak lebih tinggi dari minus 17 derajad Celsius.  Jika menyimpan bahan pangan beku di atas suhu minus 9 derajad Celsius, maka kemungkinan akan terjadi “freezer burn” (dikatakan terbakar karena memang ada tanda-tanda seperti terkena suhu tinggi, padahal dalam almari pembeku) yang dicirikan terjadinya perubahan tekstur, cita rasa dan penurunan nilai gizi bahan pangan secara cepat.

Pembekuan lebih diarahkan untuk menghambat pertumbuhan mikrobia, sehingga bahan pangan tersebut dapat lebih tahan simpan, namun seringkali kita juga dihadapkan pada kenyataan bahwa bahan pangan yang dibekukan harus ditangani secara khusus sebelum dikonsumsi. Istilah “khusus”  kedengaran agak ngeri-ngeri sedap, tetapi tidak se seram itu, hanya dianjurkan setelah dikeluarkan dari tempat penyimpanan beku sesegera mungkin diolah menjadi makanan jadi dan tidak menyisakan bahan tersebut untuk dibekukan kembali. 

Pembekuan kembali bahan pangan yang sudah digunakan atau mengalami “pencairan” atau istilah kerennya “thawing” akan membawa akibat pada perubahan cita rasa bahan pangan, perubahan tekstur maupun penurunan nilai gizi. 

Jadi kalau membeli bahan pangan beku sebaiknya berhitung cermat agar tidak ada penyimpanan kembali karena pembelian yang berlebih dan bagi kita yang tidak mengalami kesulitan memperoleh bahan pangan segar, akan lebih afdol mengkonsumsi bahan pangan segar.

Hal lain yang perlu diketahui, cara sederhana yang dapat dilakukan untuk “mencairkan” daging beku misalnya adalah dengan merendamnya dalam air, namun untuk cara ini ada satu syarat yang tidak boleh dilanggar yakni sabar, sabar dan sabar, karena prosesnya cukup lama. Jika ingin lebih cepat, gunakan microwave, namun suhu jangan terlalu tinggi, agar tidak matang, dan jangan lupa buka dulu kemasannya.

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *